Cuci Darah Lebih Seribu Kali Untuk Mempertahankan Hidup

HIDUP TEGAR: Dosen STAIP Bandung Yadin Burhanudin (kiri) saat memberi bimbingan kepada mahasiswanya kemarin (23/1).

Menghadapi ujian berupa penyakit gagal ginjal kronis bukanlah hal yang gampang. Selain, harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu, perlahan Yadin Burhanudin mulai kehilangan dunianya sebagai seorang jurnalis.

FIKA FITRIA SYAHRONI, Buah Batu

TERIK panas mentari menemani langkah wartawan Bandung Ekspres menuju Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persis Bandung di Jalan Ciganitri, Buah Batu, Kota Bandung, Jumat (20/1) siang.

Sunyi senyap terlihat di beberapa ruangan kelas kampus itu. Terutama ruangan kelas lantai atas, dua kelas terlihat kosong. Hanya sedikit mahasiswa yang kuliah, tidak seramai seperti biasanya. Suasana liburan yang masih terasa usai UAS kemarin, sehingga perkuliahan pun masih belum berjalan efektif.

Dari kejauhan, terlihat seorang dosen sedang duduk santai di teras massjid kampus usai menunaikan salat Dzuhur. Saat itu, Yadin terlihat sangat rapi. Dia mengenakan kemeja panjang berwarna kuning mencolok, dan bercelana hitam panjang.

Penampilannya yang rapi, menunjukan Yadin seorang dosen yang baik hati dan menginspirasi. Kisah hidupnya luar biasa dan patut untuk diteladani. Terutama kisahnya yang mengharukan, tentang perjuangannya dalam menghadapi penyakit ganas, gagal ginjal kronis.

Usianya sudah kepala empat. Memiliki satu istri satu bernama Ela Nurlaela, 38, satu anak, Alifa Mustikaning Qalby, 13 yang sekarang masih duduk di kelas 1 Tsanawiyah, Pajagalan.

Pada Desember 2005 lalu, dokter di RS Kebon Jati memvonis Yadin gagal ginjal. ”Kemungkinan penyebabnya adalah hipertensi (darah tinggi). Waktu itu, tensi saya 210/90, padahal normalnya harus 120/ 100. Mungkin karena tingginya tekanan darah saya waktu itu, akhirnya saya pun terkena penyakit gagal ginjal,” ungkap Yadin kepada Jabar Ekspres.

Saat itu, dirinya bekerja sebagai reporter salah satu radio lokal di Bandung. Kondisi badan yang semakin melemah, membuatnya tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Dia benar-benar harus meninggalkan dunia jurnalistik yang telah menyatu dengan jiwanya. Namun, hal itu tidak membuat Yadin menyerah memperjuangkan hidupnya, malah terjadi perubahan besar bagi hidupnya.

Sejak saat itu, Yadin menjalani cuci darah dua kali seminggu sampai sekarang. Jika dihitung-hitung, cuci darah tersebut sudah berlangsung selama 11 tahun. ”Perkiraan saya, mungkin saja sudah lebih lebih dari seribu kali saya menjalani cuci darah. Itupun saya pernah melihat di medical report (catatan medis). Di sana, tercantum sudah lebih seibu kali saya cuci darah,” ujar Yadin.

Gagal ginjal kronis ini bukanlah penyakit biasa. Penyakit ini mengambil apapun dari penderitanya. Mulai dari kesehatan, ekonomi, bahkan profesi.

Penyakit ini sangat berbahaya, ibarat setengahnya kiamat. Pertama, dari segi kesehatan, penderita gagal ginjal kronis ini akan merasakan hipertensi. Sementara hipertensi akan melemah kondisi badannya, dikarenakan mengalami anemia (kekurangan darah).

Efek yang ditimbulkan di antaranya, cepat capek, cepat sesak dan faktor-faktor lainnya yang menyangkut segi kesehatan. Kedua, dari segi ekonomi, orang yang gagal ginjal biasanya akansangat turun drastis ekonominya. Banyak yang tadinya mapan, tiba-tiba jatuh miskin, karena biaya berobat sangat mahal.

Ketiga, orang yang gagal ginjal kronis harus rela kehilangan kesempatan bekerja, ”Misalnya, seperti saya.  Saya pernah bekerja di radio, Namun, tiba-tiba berhenti bekerja ketika divonis gagal ginjal,” ujar Yadin.

Selain itu, orang yang gagal ginjal juga ternyata tidak bisa mengeluarkan urine selancar orang sehat. Bahkan, jika sakitnya sudah bertahun-tahun, mereka sama sekali tidak bisa mengeluarkan urine. ”Saya kan pasien bertahun-tahun, makannya tidak bisa kencing. Kalau saya minum, maka tidak keluar melalui air kencing. Tapi kadang akan menumpuk di perut atau bagian tubuh yang lainnya. Sehingga akhirnya bengkak-bengkak. Oleh karena itu, dokter menyarankan agar tidak banyak minum. Dalam sehari itu minum paling 500 ml, sekitar satu botol aqua yang kecil,” ujarnya.

Dalam hal makan pun, Yadin tidak seperti orang sehat. Banyak makanan yang dipantang, misalnya buah-buahan. Contoh buah-buahan yang dipantang, seperti pisang, durian, air kelapa dan yang lainnya. Pisang tidak boleh dimakan, karena pisang mengandung kalium. Kalau kalium sudah menumpuk di tubuh, bisa mengakibatkan sesak nafas.

Adapun mengenai makanan yang boleh dimakan. seperti nasi, ikan, telur, sayur, dan daging. Daging pun boleh dimakan, hanya dengan syarat makannya tidak boleh banyak.

Yadin pun tidak pernah lagi olahraga, karena tidak diperbolehkan oleh dokter. ”Saya tidak pernah olahraga, olahraga malah akan memperburuk fisik saya, kecuali olahraga jalan kaki.  Itu pun boleh dengan syarat jaraknya tidak jauh,” ketusnya.

Dapat dibayangkan, begitu berat memang. Sehingga wajar Yadin mengibaratkan bahayanya seperti setengah kiamat. Yadin pun menjelaskan bahwa pasien gagal ginjal diuji juga dari segi sosialnya. ”Belum lagi nanti, ada kerugian sosialnya. Orang yang gagal ginjal, pergaulanya akan menjadi terbatas. Contoh kecilnya saja, yang biasanya aktif di RT atau RW, pasti akhirnya akan berhenti karena akibat lemahnya kondisi badan,” tuturnya.

Ketika bulan Ramadan, Yadin tetap menjalankan puasa. Meskipun sebenarnya dokter tidak memperbolehkan puasa bagi pasien gagal ginjal. Karena puasa bisa membuat badan menjadi semakin lemah, dan kemungkinan bisa masuk UGD. Tapi, Yadin mengaku, bahwa dia bisa melakukan puasa, meskipun tidak full. ”Saya juga heran, entah kenapa saya bisa puasa? Meskipun saya puasanya tidak sebulan full. Dan biasanya saya bocor sekitar delapan hari dalam sebulan, disebabkan cuci darah,” ujarnya.

Dalam perjalan hidupnya, Yadin terbilang berprestasi. banyak karya yang dia torehkan. Tahun 2001, saat dirinya bekerja di salah satu radio, manajemen memindahkannya menjadi skript writer. Ketika berhenti menjadi skrip writer, Yadin pun menjadi salah satu dosen di STAI Persis Bandung.

Sampai sekarang, Yadin tetap berusaha bekerja keras dalam keterbatasan. Profesinya kini, Yadin hanya mengajar sebagai dosen STAI Persis Bandung dan sebagai penulis lepas di media cetak.

Buku berjudul Ketika Sakit Tak Kunjung Sembuh menjadi saksi perjalan hidupnya. ”Dalam buku itu, saya hendak memberi motivasi pada para pembaca tentang bagaimana saya bisa bertahan dalam kondisi yang sedang sakit,” ujarnya.

Meskipun Yadin berada dalam badai ujian, dia tetap optimistis memperjuangkan kehidupannya.Dirinya selalu ingat dengan tiga kunci, ridha, ikhlas dan ikhtiar.

Adapun mengenai target ke depannya, Yadin mengutarakan, akan lebih mengisi waktunya yang tersisa dengan mendekatkan diri pada Allah. ”Karena dirasa umur saya sudah tanda kutip, artinya sebentar lagi. Saya akan lebih mempersiapkan diri untuk akhirat. Lebih mendekatkan diri pada Allah. Adapun untuk urusan dunia, saya tidak muluk-muluk punya obsesi. Saya pun akan tetap mencari nafkah dengan menjadi dosen dan seorang penulis. Karya saya yang baru pun sedang saya persiapkan. Saya sedang mengumpulkan data-data terlebih dahulu. Lalu kalau ada tenaga, saya akan kerjakan di sela-sela cuci darah. Dan setelah semuanya beres, mungkin buku karya saya yang kedua barulah akan diterbitkan,” pungkasnya optimistis. (*/fik)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here