Bertahan saat Tragedi ”Wamena Berdarah”

Juara Siagian, 30 Tahun Mengabdi pada Negeri

jabarekspres.com, BANDUNG – Di balik maju dan canggihnya industri teknologi informasi komunikasi (TIK) negeri ini, selalu ada tangan kecil tak terlihat yang berkontribusi.

Salah satunya yaitu Juara Siagian, pria yang sudah 30 tahun lebih mengabdi di PT Telkom di Kancatel Wamena, sebuah kota berjarak 585 km dari Jayapura, ibukota Provinsi Papua.

Awal Juli ini, dia diberi penghargaan khusus kategori Inspiring Employee dari Direksi PT Telkom Indonesia.

Wujud pengabdian utamanya antara lain terlihat ketika meletus kerusuhan di kota dataran tinggi itu pada 6 Oktober 2000. Gerakan separatis Bintang Kejora yang bentrok dengan aparat memunculkan aksi vandalisme pada banyak tempat.

”Kerusuhan besar-besaran di Wamena, kini dikenal ”Wamena Berdarah”. Kala itu banyak aset pemerintah, aset pribadi masyarakat, dan nyawa manusia jadi korban kerusuhan. Saya lakukan pendekatan persuasif, hasilnya aset perusahaan tidak dirusak,” katanya saat dihubungi baru-baru ini.

Menurut dia, pendekatan utama kala itu dilakukan terhadap warga asli pribumi Papua agar tak merusak aset. Caranya antara lain mengumpulkan karyawan putera asli daerah untuk menjaga aset paling pertama. Selain itu, Juara juga mengarahkan massa agar tidak melakukan perusakan aset, serta ungsikan karyawan ke tempat lebih aman.

Hal sulit ini relatif mudah dilakukan karena pria 54 tahun ini sudah bertugas di Wamena sejak 15 Februari 1987 dengan posisi awal operator, kemudian lanjut Petugas Teknik Sentral (1991), Kasi Teknik (2003), Kakancatel (2006), dan Supervisor Plasa Wamena (2013-sekarang).

”Hasilnya, selama kerusuhan terjadi, layanan komunikasi di Wamena dapat tetap berjalan seperti biasa. Dan saat ini, sudah terlayani 400 pelanggan Telkom Speedy serta layanan data VPN IP (Virtual Private Network Internet Protocol,red) dengan jaringan optik transport satelit,” katanya.

Dari Jayapura ke Wamena, jalan saat ini sudah sudah tersambung 470 km dan sisa 115 km-nya belum. Dari 470 km, yang sudah beraspal 342 km dan belum beraspal 128 km. Transportasi lancar hanya via pesawat udara, namun tarifnya mahal bisa Rp2 juta sekali jalan.

Menurut Juara, sempat tercuat keinginan balik ke Sumatera Utara, atau setidaknya ke Jayapura, selama pengabdian selama ini. Bahkan, sudah sempat muncul rekomendasi mutasi. Namun karena loyalitas, dedikasi, dan pertimbangan keluarga, maka terus bertugas di daerah terpencil yang terkenal dengan Lembah Baliem-nya ini.

”Bagi saya, mengabdi pada BUMN itu anugerah. Karena saya dan keluarga dapat bertahan karena bantuan Telkom. Anak saya dapat sukses, salah satunya karena perusahaan nyata membantu saya sebagai karyawan mendapatkan kehidupan lebih baik,” katanya. (fik)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here