Antusiasme Mahasiswa Tiongkok Mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia

Gara-gara Borobudur, Meilan Ingin Kembali ke Jogja

Antusiasme Mahasiswa Tiongkok Mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia
KOKO KURNIAWAN/JAWA POS
BERI PERHATIAN: Wartawan Jawa Pos Agus Muttaqin (kanan) memberikan penjelasan tentang Indonesia kepada para mahasiswi YMU yang mengambil prodi bahasa dan budaya Indonesia.

Peminat program studi bahasa dan budaya Indonesia di Yunnan Minzu University (YMU) Kunming, Yunnan, Tiongkok, terus meningkat setiap tahun. Saat ini terdapat 95 mahasiswa yang menekuni prodi itu. Berikut laporan AGUS MUTTAQIN, AGUS DWI PRASETYO, dan KOKO KURNIAWAN dari sana.

LAGU Tulolonna Sulawesi terdengar di ruang pertemuan kampus Yuhua, YMU, Selasa (16/5), menyambut kedatangan rombongan wartawan dari Indonesia. Delapan mahasiswi yang mengenakan kaus putih dan bawahan kain batik printing menari mengikuti irama lagu asal Sulawesi Selatan tersebut. Gerakan mereka lumayan luwes.

Mereka adalah mahasiswa yang kini mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di YMU. Tak heran bila mereka mulai familier dengan seni budaya Indonesia. Bahkan, di antara empat mahasiswa tersebut, ada yang pernah belajar bahasa dan budaya Indonesia secara khusus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

’’Selain bahasa, di Jogja saya belajar membatik dan main gamelan,’’ ujar Xu Meilan yang pernah tinggal selama setahun (2015–2016) di Kota Gudeg.

Meilan juga punya pengalaman tak terlupakan saat berbelanja di pasar saat pagi, ikut bercocok tanam di Gunungkidul, dan berwisata mengunjungi Candi Ratu Boko, Prambanan, serta Borobudur. ’’Candinya bagus-bagus,’’ tuturnya dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.

Meilan bisa berbahasa Indonesia dengan lancar karena memang secara serius mempelajarinya. Selain pernah mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Jogjakarta, dia termasuk mahasiswa senior di Fakultas Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sudah lima tahun perempuan 25 tahun tersebut belajar tentang Indonesia.

Sementara itu, tiga teman Meilan, yakni Yu Guangbing, Peng Wei, dan Malina, belum begitu lancar berbahasa Indonesia. Namun, mereka tampak antusias mengeja kata demi kata yang familier dalam kehidupan sehari-hari. ’’Kami suka bahasa Indonesia,’’ kata Malina.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR