Akses ke Tol Soroja Ditutup Warga

10
SEGEL WARGA: Warga Parung Serab, Kecamatan Soreang melakukan penyegelan dengan menggunakan kertas karton akibat ulah kontraktor yang ingkar janji pada warganya.

jabarekspres.com, SOREANG – Puluhan warga Desa Parungserab Kecamatan Soreang melakukan penutupan jalan akses menuju proyek tol Soreang-Pasirkoja (Soroja). Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes, karena selama adanya pelaksanaan proyek tersebut warga sekitar banyak yang dirugikan.

Muhamad Sani, warga Desa Parungserab menyebutkan selama pelaksanaan proyek tersebut, ada sembilan RW di Desa Parungserab yang terkena dampak secara langsung dari berbagai aktifitas proyek pembangunan. Salahsatunya pengangkutan tanah urugan, mobilisasi alat berat dan pengangkut material lainnya. Semua aktifitas tersebut, membuat warga resah. Apalagi disinyalir sering terjadinya kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak setelah adanya proyek tol.

”Pihak pengembang sub kontraktor yang dulu pernah menjanjikan ada kompensasi ganti rugi untuk warga, dengan membuat MoU tertulis. Kompensasi yang akan diberikan berupa perbaikan jalan, pembangunan sarana ibadah serta pemberian uang sebesar Rp 5 juta per RW,” jelasnya kepada wartawan disela rapat koordinasi bersama perwakilan warga dari 9 Rw di Aula Desa parungserab, Selasa (18/4).

Menurutnya, selain menjanjikan kompensasi kepada warga untuk perbaikan sarana umum dan pembangunan tempat ibadah, pengembang juga menjanjikan akan mempekerjakan putra daerah. Namun kata dia, semua janjit itu pada kenyataannya tidak terealisasi.

”Dulu pernah ada beberapa orang warga yang dipekerjakan, namun sayangnya upahnya tidak dibayarkan oleh pihak pengembang proyek ini. Pelaksanaan proyek tol Soroja sudah berjalan sejak awal 2016, tapi warga tidak merasakan dampak positifnya,” jelasnya.

Sani menambahkan, pihak pengembang PT. KHI yang merupakan sub kontraktor dari proyek PT Grider Indonesia sebagai kontraktor utama proyek tersebut, telah berganti dengan pengembang lain. Namun tetap saja, pengembang baru enggan memberikan kompensasi ke warga. Sehingga, kata dia, sampai kapan pun warga akan tetap menuntutnya. Jika kompensasi yang diinginkan warga itu tak kunjung direalisasikan, maka warga akan terus memblokir jalan akses menuju proyek Jalan Tol Soroja itu.

”Tuntutan kompensasi ini, kami minta secepatnya diselesaikan. Karena kalau cuma janji saja, kami sudah kapok dibohongi oleh perusahaan-perusahan seperti itu. Permintaan kami ini, sangat realistis dan untuk kepentingan semua warga, karena sejak ada proyek ini sama sekali tidak ada manfaatnya untuk kami, malah menimbulkan kerusakan saja,” tukasnya.

Sani menambahkan selain kerusakan jalan, kerugian lainnya yang dialami warga Desa Parungserab, yakni adanya beberapa orang pekerja warga sekitar telah 1,5 bulan bekerja, namun upahnya tak kunjung dibayar. Tak hanya itu saja, pihak pengembang juga tak kunjung membayar material pembangunan yang dibeli dari beberapa orang pelaku usaha warga sekitar.

”Bahkan rumah saya juga sampai saat ini belum dibayar ganti ruginya. Karena memang harga yang ditawarkan oleh panitia tidak sesuai dengan harga pasaran disini. Jadi keberadaan proyek ini sama sekali tidak ada untungnya untuk kami warga Desa Parung Serab, malah merugikan,” akunya.

Lebih lanjut sani menambahkan, jika tuntutan kompensasi warga ini tak kunjung direalisasikan. Kata dia, warga Desa Parungserab akan terus memblokir akses jalan menuju proyek Tol Soroja. Tak hanya itu saja, warga juga siap melakukan aksi unjuk rasa ke DPRD Kabupaten Bandung, Bupati Bandung dan Gubernur Jabar.

”Ini bukan untuk kepentingan saya pribadi. Tapi untuk kepentingan semua warga Desa Parungserab yang tersebar di 9 RW, jadi kami akan terus berjuang menuntut kompensasi,” ujarnya.

Sementara itu, Bagus Medi Direktur Utama PT Citra Marga Lintas Jabar (CLMJ) mengatakan PT Citra Marga Lintas Jabar (CLMJ) selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Soreang-Pasir Koja (Soroja) memberikan peringatan keras kepada sub kontraktor PT PHI yang dianggap telah menelantarkan mitra kerjanya sehingga membuat proyek pengurugan tanah untuk tol dihentikan sementara waktu oleh warga Parung Serab.

Sejak Sabtu (15/4) mobil pengangkut tanah pengurugan untuk proyek Jalan Tol Soroja dihentikan secara paksa oleh warga Parung Serab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung lantaran warga kesal akibat sub kontraktor tak kunjung membayarkan honor mereka yang telah dipekerjakan dan kompensasi perbaikan sarana umum yang rusak akibat lalu lintas kendaraan berat sesuai dengan perjanjian awal.

Menurutnya, apabila dalam waktu dekat sub kontraktor tersebut tidak bisa membayarkan kewajiban terhadap warga setempat akan langsung diputus kontraknya. Pasalnya, pembayaran dari CLMJ sudah dilakukan sejak lama dan tidak ada masalah dengan cash flow.

”Kadang-kadang sub konstraktor ini menunda-nunda pembayaran. Apalagi ini kontraktor lokal entar-entaran dulu, ya mandeklah. Semuanya juga kalau seperti itu akan jadi masalah,” katanya kepada wartawan

Dalam berbagai kesempatan, Bagus mengaku berulangkali mengingatkan PHI mengenai pembayaran hak-hak warga setempat dan mereka mengaku sudah menunaikannya. Akan tetapi, hingga kini ternyata masalah tersebut tak kunjung bisa diselesaikan. Untuk itu, pihaknya telah menginstruksikan stafnya untuk mengecek kondisi di lapangan dengan mengikuti pertemuan antara warga dan sub konstraktor yang difasilitasi pemerintah daerah.

Saat ini, permasalahan tersebut sudah selesai dan PHI berjanji akan segera menyelesaikan masalah tersebut agar tidak merugikan terhadap pelaksanaan proyek secara keseluruhan yang akan berdampak pada molornya pengerjaan jalan yang menghabiskan anggaran hingga Rp1,3 triliun tersebut.

Disinggung mengenai progres pembangunan, Bagus menyatakan, saat ini sudah mencapai 70 persen. Dengan kondisi cuaca yang kondusif tidak ada hujan dalam sebulan, dirinya yakin proyek tersebut akan tuntas sesuai dengan target awal.

”Memang ada kendala, kebutuhan tanah untuk pengurugan itu mencapai 3 juta kubik, makanya dalam sehari kami butuh 13.000 kubik,” ucapnya. Pengambilan tanahpun tidak mudah karena tidak bisa sembarangan mengambil dari bukit atau gunung yang ada. Kondisi tersebut diperparah dengan akses jalan yang sempit sehingga kendaraan truk besar tidak bisa masuk.

”Idealnya diangkut dengan truk kapasitas 30 ton, yang bisa malah 8 ton. Itu tidak bisa disesali jadi kami kerjakan 24 jam,” pungkasnya. (rus/ign)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here