Adang Muhidin, Pengusaha Konstruksi Jadi Pebisnis Alat Musik Bambu

Kreasi Pertamanya Biola Mirip Kentongan

Kebetulan, saat itu dia ikut komunitas Angklung Web Institute Bandung. Mulai malam itu dia mulai berpikir bagaimana caranya membuat alat musik dari bambu. Ide tersebut akhirnya terwujud pada 2011. Sebuah biola dari bambu berhasil dibuat dengan bentuk yang masih agak aneh. Lebih mirip kentongan yang diberi senar.

’’Biola itu kan biasanya untuk membawakan lagu-lagu yang melengking, yang menyayat hati. Suara tersebut menggambarkan kondisi saya saat itu,’’ tutur ayah dua anak tersebut. Meski bentuknya cenderung aneh, biola itu dibeli orang Malaysia Rp 1,5 juta.

Adang bercerita, pada rentang 2009–2010, usahanya karut-marut. Bahkan, akhirnya dia bangkrut dan menanggung utang ratusan juta. Penyebabnya, tiga usahanya di bidang konstruksi, bengkel mesin bubut, dan penjualan pulsa gulung tikar. Ratusan juta modal untuk berjualan pulsa hilang bersamaan dengan chip yang dibawa kabur karyawannya.

’’Saya stres berat. Sampai saya bentur-benturkan kepala saya di tembok,’’ ungkap suami Tati Winarti itu.

Masalah tersebut bahkan sampai merembet dalam kehidupan rumah tangganya. Adang mengaku hampir berpisah dari istri dan dua anaknya lantaran tidak bisa mengurusi mereka. ’’Bahkan, saya berencana mau kembali ke Jerman untuk bekerja di sana. Lima tahun saya pikir cukuplah untuk melunasi utang yang menggunung,’’ kata Adang.

Alumnus jurusan Teknik Metalurgi Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, pada 1999 itu memang pernah mengenyam pendidikan di Jerman. Dia kuliah magister jurusan teknik perlindungan korosi di Fachhochschule Südwestfalen, Iserlohn, Jerman. Kehidupan yang tidak mudah di Jerman sebenarnya menempanya menjadi orang yang tidak gampang putus asa.

’’Saya pernah menggelandang di Jerman. Bekerja sebagai pencuci piring. Puasa Senin-Kamis untuk ngirit,’’ ungkap Adang yang juga pernah menjadi penjual roti bakar untuk biaya kuliah di Jerman.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR