Adang Muhidin, Pengusaha Konstruksi Jadi Pebisnis Alat Musik Bambu

Kreasi Pertamanya Biola Mirip Kentongan

Meski laris manis, IBC konsisten hanya membuat masing-masing tiga gitar, bas, biola, dan drum tiap bulan. Itu ditujukan untuk menjaga mutu. Bila produksi masal, dia khawatir kualitasnya menurun. Itu berbahaya untuk kelangsungan usaha kreatif Adang.

Memang, kualitas produk IBC sesuai dengan harganya yang juga cukup mahal. Gitar melodi, misalnya, dibanderol mulai Rp 8 juta, biola (Rp 2 juta), bas (Rp 9 juta), dan drum (Rp 20 juta). ’’Ini semua biar tetap eksklusif,’’ ungkap Adang yang merintis IBC sejak April 2013 setelah berganti-ganti komunitas.

Alat musik dari bambu karya Adang bukan sekadar aksesori atau miniatur. Tapi benar-benar alat musik yang bisa digunakan untuk bermain musik. Bahkan, IBC punya grup band D’Bamboo Essential yang memainkan alat musik modern berbahan bambu. Mereka sudah malang melintang tampil di luar kota Bandung hingga luar negeri seperti ke Yilan International Art Festival 2016 di Taiwan dan Borneo Cultural Festival di Sibu, Malaysia, September 2015. ’’Pertengahan Mei ini rencananya kami main di Malaysia. Lalu, September ke Rumania,’’ ungkapnya.

Setelah banyak bercerita di studio musik, Adang mengajak ke ruang workshop di sebelah kantor. Di dua ruangan berukuran sekitar 5 x 5 meter itulah semua alat musik dari bambu diproduksi. Mulai proses laminasi, pembentukan, hingga finishing touch.

Adang mulai menekuni bambu setelah terinspirasi saat menonton konser musik Addie M.S. di televisi pada 2010. Ternyata, mata dan pikirannya tertuju pada alat-alat musik yang digunakan dalam konser itu yang punya satu kesamaan. Yakni, berlubang. Ya, dia menganggap lubang di alat musik tersebut sebagai hal yang unik.  ’’Lubang juga ada pada bambu,’’ ungkap Adang.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR