Adang Muhidin, Pengusaha Konstruksi Jadi Pebisnis Alat Musik Bambu

Kreasi Pertamanya Biola Mirip Kentongan

13
JUNEKA/JAWAPOS
MENDUNIA: Adang Muhidin pembuat alat musik modern berbahan dasar bambu saat ditemui di studio di Cimahi Bandung, Selasa (4/4).

Di tangan Adang Muhidin, bambu bisa menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Yakni, dikreasi menjadi alat musik modern. Dia pun punya obsesi bisa mengganti semua alat musik dalam sebuah orkestra dengan alat musik dari bambu.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Bandung

Adang Muhidin menenteng gitar yang bentuknya tak lazim. Tubuh gitar itu terbuat dari bambu petung satu ruas penuh seukuran paha orang dewasa. Teksturnya agak tersamarkan oleh bridge (pangkal tautan senar) yang juga berbahan bambu, tapi sudah dilaminasi. Yang terlihat jelas bambu hanya di bagian bawah dan atas bodi.

Di bagian leher gitar dan headstock yang terbuat dari bambu gombong, hasil laminasi hampir tak terlihat sebagai bambu. Praktis, gitar semielektrik itu 90 persen bambu. Sisanya, 10 persen berupa senar dan peranti elektronik yang dipasang di dalam gitar.

’’Gitar ini tipe primitif,’’ ujar Adang saat ditemui di kantor Indonesian Bamboo Community (IBC), Jalan Melong Asih, Cimahi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Setelah basa-basi sebentar, Adang mengajak masuk ke studio musiknya. Dia menunjukkan alat-alat musik dari bambu bikinannya. Mulai gitar melodi, bas, biola, dan drum yang ringnya juga dibuat dari bambu.

Dia juga memperlihatkan gitar tipe retro dan ekstrem. Bedanya, pada tipe retro, unsur bambunya masih terlihat. Sedangkan tipe ekstrem sudah susah dibedakan dengan gitar elektrik pada umumnya. Sebab, serat bambu hasil laminasi hampir tak terlihat setelah dicat.

’’Tapi, tetap saja yang paling banyak dicari adalah tipe primitif,’’ ungkap pria kelahiran Bandung, 21 Februari 1974, itu.

Peminatnya tidak hanya dari dalam negeri, tapi banyak juga yang dari mancanegara. Di antaranya, Meksiko, Belgia, Prancis, Yunani, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Taiwan, Rumania, Slovenia, Malaysia, dan Filipina.

Meski laris manis, IBC konsisten hanya membuat masing-masing tiga gitar, bas, biola, dan drum tiap bulan. Itu ditujukan untuk menjaga mutu. Bila produksi masal, dia khawatir kualitasnya menurun. Itu berbahaya untuk kelangsungan usaha kreatif Adang.

Memang, kualitas produk IBC sesuai dengan harganya yang juga cukup mahal. Gitar melodi, misalnya, dibanderol mulai Rp 8 juta, biola (Rp 2 juta), bas (Rp 9 juta), dan drum (Rp 20 juta). ’’Ini semua biar tetap eksklusif,’’ ungkap Adang yang merintis IBC sejak April 2013 setelah berganti-ganti komunitas.

Alat musik dari bambu karya Adang bukan sekadar aksesori atau miniatur. Tapi benar-benar alat musik yang bisa digunakan untuk bermain musik. Bahkan, IBC punya grup band D’Bamboo Essential yang memainkan alat musik modern berbahan bambu. Mereka sudah malang melintang tampil di luar kota Bandung hingga luar negeri seperti ke Yilan International Art Festival 2016 di Taiwan dan Borneo Cultural Festival di Sibu, Malaysia, September 2015. ’’Pertengahan Mei ini rencananya kami main di Malaysia. Lalu, September ke Rumania,’’ ungkapnya.

Setelah banyak bercerita di studio musik, Adang mengajak ke ruang workshop di sebelah kantor. Di dua ruangan berukuran sekitar 5 x 5 meter itulah semua alat musik dari bambu diproduksi. Mulai proses laminasi, pembentukan, hingga finishing touch.

Adang mulai menekuni bambu setelah terinspirasi saat menonton konser musik Addie M.S. di televisi pada 2010. Ternyata, mata dan pikirannya tertuju pada alat-alat musik yang digunakan dalam konser itu yang punya satu kesamaan. Yakni, berlubang. Ya, dia menganggap lubang di alat musik tersebut sebagai hal yang unik.  ’’Lubang juga ada pada bambu,’’ ungkap Adang.

Kebetulan, saat itu dia ikut komunitas Angklung Web Institute Bandung. Mulai malam itu dia mulai berpikir bagaimana caranya membuat alat musik dari bambu. Ide tersebut akhirnya terwujud pada 2011. Sebuah biola dari bambu berhasil dibuat dengan bentuk yang masih agak aneh. Lebih mirip kentongan yang diberi senar.

’’Biola itu kan biasanya untuk membawakan lagu-lagu yang melengking, yang menyayat hati. Suara tersebut menggambarkan kondisi saya saat itu,’’ tutur ayah dua anak tersebut. Meski bentuknya cenderung aneh, biola itu dibeli orang Malaysia Rp 1,5 juta.

Adang bercerita, pada rentang 2009–2010, usahanya karut-marut. Bahkan, akhirnya dia bangkrut dan menanggung utang ratusan juta. Penyebabnya, tiga usahanya di bidang konstruksi, bengkel mesin bubut, dan penjualan pulsa gulung tikar. Ratusan juta modal untuk berjualan pulsa hilang bersamaan dengan chip yang dibawa kabur karyawannya.

’’Saya stres berat. Sampai saya bentur-benturkan kepala saya di tembok,’’ ungkap suami Tati Winarti itu.

Masalah tersebut bahkan sampai merembet dalam kehidupan rumah tangganya. Adang mengaku hampir berpisah dari istri dan dua anaknya lantaran tidak bisa mengurusi mereka. ’’Bahkan, saya berencana mau kembali ke Jerman untuk bekerja di sana. Lima tahun saya pikir cukuplah untuk melunasi utang yang menggunung,’’ kata Adang.

Alumnus jurusan Teknik Metalurgi Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, pada 1999 itu memang pernah mengenyam pendidikan di Jerman. Dia kuliah magister jurusan teknik perlindungan korosi di Fachhochschule Südwestfalen, Iserlohn, Jerman. Kehidupan yang tidak mudah di Jerman sebenarnya menempanya menjadi orang yang tidak gampang putus asa.

’’Saya pernah menggelandang di Jerman. Bekerja sebagai pencuci piring. Puasa Senin-Kamis untuk ngirit,’’ ungkap Adang yang juga pernah menjadi penjual roti bakar untuk biaya kuliah di Jerman.

Kuliah di Jerman dengan biaya sendiri itu akhirnya dia rampungkan pada 2005. Adang lantas kembali ke Bandung dan mendirikan tiga perusahaan sekaligus. Rupanya, usaha itulah yang membuat roda kehidupannya terjun bebas. ’’Saya sampai pernah tiga minggu tidak pulang. Pokoknya, berantakan sekali,’’ kenangnya.

Namun, roda kehidupan, rupanya, kembali berputar dengan lebih stabil. Berbekal uang Rp 100 ribu, Adang merintis usaha baru membuat alat musik dari bambu. Produksi pertamanya adalah biola ’’aneh’’ yang kemudian terjual Rp 1,5 juta.

Dari situ, dia lantas mengembangkan kreasinya dengan membuat gitar elektrik berbahan bambu. Produk yang satu ini ternyata relatif lebih mudah karena suara yang dihasilkan lebih mengandalkan sistem elektrik.

’’Boleh percaya atau tidak, sampai saat ini saya sendiri tidak bisa bermain musik,’’ katanya, lantas terkekeh.

Kini usaha alat musik bambu Adang berkembang pesat. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta. Adang sudah punya banyak rencana untuk pengembangan unit usaha lain di bawah bendera brand VirageAwie yang berarti hanya bambu. ’’Kunci utamanya ada pada laminasi,’’ jelasnya.

Dari bahan bilah bambu laminasi itu, kata Adang, bisa dibuat aneka macam perabot dan pernak-pernik aksesori. Mulai lantai kayu, hiasan dinding, casing ponsel, hingga frame kacamata. Di ruang workshop itu sudah ada contoh pengeras suara dari bambu untuk ponsel.

’’Kami berencana membikin pabrik di Karawang. Targetnya pada 2018 mulai produksi ke luar,’’ katanya optimistis.

Adang masih punya cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud. Dia terobsesi membuat alat musik lengkap dari bambu untuk kelompok orkestra. ’’Saya sangat ingin bambu yang di banyak tempat tidak punya nilai bisa naik kelas,’’ tandas dia. (*/c5/ari/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here