6.000 Angklung Menggema

Bagian dari Peringatan Hari Angklung Day's

14
ANTARA FOTO/FAHRUL JAYADIPUTRA
HARI ANGKLUNG DUNIA: Pelajar mengikuti kegiatan bertajuk ”Karya Nyata Pemersatu Bangsa” untuk memperingati Hari Angklung Sedunia di kawasan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/11). Sebanyak enam ribu peserta memeriahkan perayaan Hari Angklung Sedunia sebagai salah satu warisan budaya dunia bukan benda.

jabarekspres.com, BANDUNG – Sebanyak 6.000 anak-anak bermain angklung di Gedung Sate, Bandung, kemarin  (19/11). Anak-anak tersebut merupakan bagian dari memperingatam hari angklung sedunia.

Saung Angklung Udjo dan Keluarga Besar Bumi Siliwangi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ambil bagian dalam perhelatan akbar ini.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti menjelaskan, angklung harus dimainkan lebih dari satu orang, karena satu angklung memiliki satu nada.

Bila masing-masing memegang angklung, ketika konduktor memberi aba-aba untuk membunyikan berbarengan, maka alunan musik angklung semakin merdu.

”Artinya ketika kita bersatu padu dan bersama maka akan tercapai cita-cita bersama, ini makna yang dalam di acara ini,” ungkap Esthy didampingi Kabid Promosi Wisata Budaya Kemenpar, Wawan Gunawan, kemarin.

Angklung sebagai instrumen musik legendaris di Indonesia bisa menjadi simbol persatuan dan kesatuan. Menurut Esthy, peserta Angklung Day’s lebih dari 150 sekolah. Mulai dari TK hingga SMA di Jawa Barat bermain alat musik khas masyarakat Sunda itu.

Dia mengatakan, sejak badan budaya PBB UNESCO menetapkan angklung sebagai warisan budaya asli dari Indonesia, Angklung perlu dilestarikan dan diimplementasikan. Dengan cara dengan menjaga, memelihara, melestarikan dan meregenerasikan angklung ke seantero nusantara.

”Melalui acara Angklung’s Day 2017, dapat membuat seluruh para peserta selalu mengingat budaya leluhur dan tetap menjaga kelestariannya,” ungkapnya.

Mengenai atraksi angklung, Wawan Gunawan menceritakan kisah mengenai alat musik dari dari bambu ini. ”Dulu, angklung memegang bagian penting dari aktivitas upacara tertentu, khususnya pada musim panen,” urainya.

Suara angklung dipercaya akan mengundang perhatian Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci). Sang Dewi dipercaya membawa kesuburan terhadap tanaman padi para petani dan akan memberikan kebahagian serta kesejahteraan bagi umat manusia.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, tema besar dalam pesta angklung tahun ini adalah ”Karya Nyata Pemersatu Bangsa”.

Kenny juga minta semua masyarakat diminta untuk membantu melestarikan alat musik tradisional khas Jawa Barat ini. ”Angklung’s Day 2017 digelar memperingati hari angklung dunia dari UNESCO pada 16 November 2010 sebagai salah satu warisan budaya dunia bukan benda. Ini menjadi acara ketujuh kali dan akan diselenggarakan Kabumi UPI semenjak tahun 2010,” papar Kenny.

Dengan mengajak para siswa sebagai peserta, Kenny berharap anak-anak muda dapat mengenal budaya bangsa. Kemudian anak-anak muda dapat melestarikan budaya itu sehingga tak hilang digerus zaman.

”Dulu, angklung memegang bagian penting dari aktivitas upacara tertentu, khususnya pada musim panen,” urainya

Sementara itu, Menpar Arief Yahya dalam rilisnya menambahkan, kegiatan ini merupakan wujud nyata masyarakat Jawa Barat dalam upaya memelihara dan mengembangkan seni angklung

”Angklung ini sudah menjadi budaya dan milik dunia. Masyarakat Jawa Barat mesti menjadi bagian paling depan untuk menjaga alat musik tersebut,” ungkap Arief.

Angklung Days ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung. ”Kami berharap kemolekan irama dan harmoni dari 6.000 manusia angklung Wonderful Indonesia dapat menggelitik rasa ingin tahu wisman untuk datang ke Indonesia,” punngkasnya. (jpnn/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here