Gambarkan Sejarah Indonesia dalam Artefak

bandungekspres.co.id– Seniman asal Yogyakarta Eddy Susanto menggelar pameran tunggal bertajuk JavaScript di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri, hingga 25 Januari mendatang.

pameran javascript
NITA NURDIANI PUTRI/BANDUNG EKSPRES

MENGAMATI: Seorang pengunjung melihat-lihat karya seni dari Eddy Susanto di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri 99.

Pameran yang dikuratori Asmudjo J. Irianto dan Suwarno Wisetrotomo ini memamerkan hasil riset yang sudah dijalani Eddy selama beberapa tahun ke belakang. Terdapat 50 karya yang terdiri dari lukisan dan instalasi patung yang merupakan karya bersifat interaktif.

”Dalam pameran ini, Eddy menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dan kisah sukses, yang tertera dalam sejumlah artefak dalam bentuk manuskrip dan sejumlah benda lainnya,” kata Suwarno Wisetrotomo kepada Bandung Ekspres kemarin (6/1).

Dia mengatakan, karya Eddy menggambarkan pemahaman, pemaknaan, dan pembacaan yang belum banyak dilakukan. Dan itu mengakibatkan sumber-sumber historis itu seperti mengalami pembekuan. Dalam pameran itu, banyak menempatkan dua produk kebudayaan dari dimensi waktu yang berbeda, seperti yang bisa dilihat pada salah satu karya yang mengetengahkan ’pun’ (permainan kemiripan kata) antara JavaScript (bahasa pemrograman komputer) dengan aksara Jawa (Javanese text).

Ringkasnya, pameran JavaScript menyodorkan berbagai pertemuan budaya (manuskrip) yang mempesona, segaris dengan kosmogami agama Hindu yakni Kiblat Papat Limo Pancer.

Eddy berhasil menemukan persilangan sekaligus relasi pengetahuan antara empat arah wilayah, dengan kebudayaan Jawa sebagai titik pusatnya.

Dari apa yang tersaji, pameran ini berfokus pada berbagai elemen kebudayaan lokal yang ia sandingkan dengan elemen–elemen dari kebudayaan lainnya. Dia mengatakan, dalam pameran ini, Eddy Susanto tak hanya membandingkan kebudayaan berdasarkan perbedaan lokasi saja (Barat dan Timur/Jawa), namun juga berdasarkan perbedaan dimensi waktu (masa lalu dan masa kini), pola produksi (saintifik/teknologi dan religius), karakter visual (teks dan pictorial), dan seterusnya.

Menurutnya, secara keseluruhan karya-karya Eddy menyodorkan berbagai pertemuan budaya (manuskrip). Misalnya, manuskrip Arjunawiwaha yang dipertemukan dengan karya klasik Albrecht Durer (1471-1528) ”The Promade”, karya kidung Asmarandana dipertemukan dengan karya Lambert Hopfer ”The Conversion of St. Paul” dan kitab Baratayudha dipertemukan dengan karya Albrecht Durer ”The Four Horsemen of the Apocalypse”.

Tinggalkan Balasan