Eksis Menjaga Budaya  Sambil Bernostalgia

komunitas ontel
KONVOI: Pecinta sepeda tua (onthel) mengikuti acara Bandoeng Laoetan Onthel ke-IV yang diselenggarakan Paguyuban Sapedah Baheula Bandung di Bandung, belum lama ini.

bandungekspres.co.id, BANDUNG – Menyusuri ruas jalanan Kota Bandung dengan mengayuh sepeda tua mungkin bisa menjadi salah satu pilihan di akhir pekan. Selain ramah lingkungan dan menyehatkan, sepeda tua bisa menambah nostalgia masa lampau pengendaranya. Namun, di zaman yang sudah maju dan berkembang ini, keberadaan sepeda tua pun mulai terabaikan.

Tetapi, pengikisan atas kecintaan sepeda tua itu tak berlaku bagi Paguyuban Sapedah Baheula (PSB) Bandung. Setiap akhir pekannya mereka mengayuh sepeda tua, menyusuri ruas-ruas Kota Kembang dengan berbagai tipe sepeda onthel. Komunitas sepeda onthel yang mengasyikkan dan kece ini, juga merupakan kombinasi antara pecinta sepeda onthel dan pecinta sepeda tua. Selain itu, alat transportasi yang ramah lingkungan ini juga merupakan alat yang bisa digunakan untuk berolahraga.

Dengan mulai meredupnya pemakaian sepeda onthel, maka PSB Bandung mengajak semua kalangan untuk mencintai alat transportasi yang menyehatkan. ”Selain untuk melestarikan nilai budaya, kami juga mencoba untuk ikut andil dalam mendukung program pemerintah daerah, salah satunya terhadap lingkungan,” ujar Yanuar Mboy, Humas Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, saat ditemui Radar Bandung (grup Bandung Ekspres).

Tak hanya sekedar gowes, komunitas PSB Bandung mencoba melestarikan kembali kecintaan terhadap sepeda onthel serta, mengingat sejarah masa lampau. ”Kami mencoba mengenang masa-masa dulu, dimana petani, tentara, bahkan kaum borjuis gagah memakai sepeda,” kata Yanuar.

Meskipun dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, PSB Bandung selalu menyuguhkan kegiatan yang mengundang banyak wisatawan. Salah satunya, membanjiri Kota Bandung dengan lautan onthel setiap tiga tahun sekali. ”Sudah beberapa kali kami mengadakan event Bandung Lautan Onthel, tujuannya untuk mengenal lebih dalam apa itu ontel, jadi tak hanya sekedar memakai,” tutur Yanuar.

Komunitas yang terbentuk sejak 2004 ini, kata Yanuar, sampai saat ini sudah memiliki sekitar 1048 anggota dari berbagai kalangan. ”Semakin kesini pecinta gowes onthel semakin banyak, bukan hanya orang tua,” tuturnya.

Namun, menurut Yanuar, sampai saat ini dukungan dari pemerintah daerah masih belum maksimal dalam setiap event yang mereka adakan. ”Kami harap pemerintah kota maupun provinsi lebih peduli terhadap segala kegiatan yang kami adakan setiap tahun, itu pun kami lakukan untuk meningkatkan daya tarik wisata ke kota ini,” pungkas Yanuar. (cr1/rdr/JPG/fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here