Apresiasi Kejelian Fotografer

32 Pewarta Foto Jabar Abadikan PON-Peparnas

FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES
MOMEN PON- PEPARNAS: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriawan (kedua kiri) didampingi Ketua Wartawan Foto Bandung (WFB) Djuli Pamungkas (kanan), dan Ketua Pelaksana Pameran Sutanto Nurhadi Permana (kiri) meninjau Karya pada Pameran Foto Kilas Balik Jabar Kahiji PON - Peparnas 2016 di Bandung Indah Plaza (BIP), Jalan Merdeka , Kota Bandung, Minggu (4/12)

bandungekspres.co.id, Bandung – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan membuka acara Pameran Foto Kilas Balik Jabar Kahiji PON XIX dan Peparnas XV, di Plaza Merdeka, Jalan Merdeka, Bandung, kemarin (4/12). Pameran tersebut memamerkan 214 foto dari 32 Fotografer berbagai media di Jawa Barat.

Ahmad Heryawan mengaku, mengapresiasi para pewarta foto yang tergabung dalam Wartawan Foto Bandung (WFB) yang telah mengabadikan momen berharga dalam rangkaian pagelaran pesta olah raga nasional. Terlebih, Jabar telah keluar sebagai juara umum baik di PON maupun Peparnas.

”Saya mengapresiasi bagaimana prestasi yang diraih Jabar dalam ajang tersebut menjadi sejarah,” tutur Heryawan usai pembukaan, kemarin (4/12).

Menurutnya, foto yang dipamerkan memiliki makna yang kuat. Seperti menggambarkan kebersamaan, sportivitas dan humanisme. Sehingga, masyarakat bisa melihat sisi lain dari pelaksaan PON dan Peparnas yang dilaksanakan di Jawa Barat.

Diakui olehnya, foto salah satu perekaman sejarah sekaligus perekaman yang baik dalam suatu peristiwa. Dokumentasi tersebut, bisa dijadikan sebagai pelajaran dalam pelaksanaan PON berikutnya. Ke depan, Aher juga akan membentuk tim dalam mendokumentasikan kegiatan PON dan Peparnas 2016.

”Seluruh dokumetasi harus dirangkum secara utuh,” ungkapnya.

Hal ini, lanjut dia, sebagai salah satu cara mengabdikan sejarah yang dihasilkan oleh Jawa Barat. Apalagi, Jawa Barat telah menunggu 55 tahun untuk mencapai gelar juara umum. Tercatat, baru di tahun 1961 Jawa Barat bisa mencapai juara umum pada penggelaraan PON. Bukan hanya itu, PON diselanggarakan lima tahunan. ”Jelas, kegiatan bersejarah ini harus abadikan dengan baik,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Aher juga menandatangani dua buah foto. Yakni, foto dengan judul ”Obor Gubernur” dari Prima Mulia wartawan foto Tempo dan foto berjudul ”Melesat” yang diambil Erwin dari Kabar Priayangan.

Sementara itu, di lokasi pameran ada beberapa foto yang cukup mengedot perhatian pengunjung. Di antaranya, foto yang diberi judul ”Mencium Tangan” yang diambil oleh Arif Hidayat dari Pikiran Rakyat memotret seorang atlet karate yang mencium tangan ibunya saat meraih emas pada ajang PON XIX 2016.

Selanjutnya, foto dengan judul ”Ricuh di Cabor Gulat” diambil oleh Gani Kurniawan dari Tribun Jabar memotret peristiwa ricuh usai pertandingan atlet Kaltim melawan kalsel, di Gor Saparua. Di mana dalam foto tersebut atlet Kaltim diamankan oleh panitia.

Lalu, foto Amri Rachman dari Jabar Ekspres memotret atlet Peparnas pada cabor lempar lembing. Momen yang diambil Amri menggambarkan atlet tersebut harus diikat dengan kuat oleh beberapa tali agar tidak terjatuh saat melempar lembing. Bukan hanya itu, di tengah keterbatasan yang ada, atlet tersebut masih bisa mengukir prestasi.

Di tempat yang sama, ketua pelaksana Susanto Nurhadi Permana mengatakan, sebelumnya terdapat 214 foto yang dikirimkan oleh 32 fotografer dari Jawa Barat untuk mengikuti pameran tersebut. ”Akhirnya kita ambil 100 buah foto yang mewakili momen dari PON dan Peparnas Jawa Barat ini,” ungkapnya.

Pemaran yang dikurasi oleh Andri Gurnita dan Imam Cahyadi ini, dianggap menjadi momen yang paling besar yang diadakan oleh Jawa Barat. Diakui olehnya, belum tentu para fotografer yang saat ini ikut akan bisa mengikuti momen tersebut kembali.

Terakhir, dari Ketua WFB Djuli Pamungkas mengatakan cukup puas dengan pameran yang diselenggaran kali ini meskipun terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. ”Masih ada yang perlu diperbaiki sebenarnya, tapi saya cukup puas,” ucapnya.

Diakui olehnya, waktu sepekan untuk pameran dirasa masih kurang lama mengingat masih ada masyarakat yang harus mengetahui foto-foto tersebut. Lalu, tempat pameran tidak terlalu luas membuat penataan foto menjadi terbatas. (nit/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here