Agung Trisnawanto yang Sukses Ubah Wukirsari Jadi Sentra Penangkar Burung

Agar Tak Cuma Menjual, lalu Kehabisan Uang di Hari Tua

180

Dari dulunya jual keliling dengan pikulan, kini warga Wukirsari di Jogjakarta tinggal menunggu pembeli, lalu memaketkan burung hasil penangkaran. Taman wisata burung yang digagas Agung Trisnawanto tengah menunggu realisasi.

 TRI MUJOKO BAYUAJI, Bantul

SATU per satu tetangga yang didekatinya menolak ajakan untuk menangkarkan burung. Alasannya rata-rata sama: takut rugi. Khawatir modal nanti tak kembali.

Tapi, Agung Trisnawanto tak putus asa. Dia akhirnya menawarkan sistem gaduh alias bagi hasil. ”Saya kasih indukan berapa pasang, nanti kalau punya anak dibagi rata sama saya,” ujar Agung.

Agung juga tidak akan meminta ganti rugi jika indukan mati. Begitu tawaran itu diterima para tetangga di Desa Wukirsari, Bantul, Jogjakarta, pria protolan kelas 2 SMP itu pun secara tekun memberikan pembelajaran yang terkait dengan penangkaran.

”Ya sedikit-sedikit, hari ini tetangga situ, nanti ada yang minta digaduh, saya nabung dulu. Lama-lama juga banyak,” ujar Agung.

Dari langkah yang awalnya tertatih-tatih itu, kini, enam tahun berselang, usaha penangkaran tersebut sudah melibatkan sekitar 2 ribu warga desa. Otomatis, ekonomi desa di kawasan Kecamatan Imogiri itu pun menggeliat. Total perputaran uang dari distribusi burung di Wukirsari minimal mencapai Rp 20 miliar.

Memang dari dulu Wukirsari dikenal sebagai desa yang mata pencaharian mayoritas warganya adalah berjualan burung. Tapi, tak sedikit di antaranya yang hanya pedagang kelas pikulan. Tak terkecuali Agung.

Setelah putus sekolah dari kelas 2 SMP Muhammadiyah Imogiri, Agung memilih untuk membantu sang bapak pikulan menjual berbagai macam burung. Agung menyebutkan, sudah menjadi hal umum di Wukirsari anak lelaki putus sekolah saat SD atau SMP untuk ikut pikulan menjual burung ke luar kota. ”Waktu itu pertama kali jual pikulan ke Madiun, tahun 1998,” kenang Agung saat ditemui Jawa Pos (induk Jabar Ekspres) di rumahnya Selasa lalu (7/6).

Rumah Agung itu bukti kerja kerasnya berbisnis burung. Berdiri di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi dengan dua lantai yang masih setengah jadi. Rumah tersebut pernah roboh total saat gempa Jogja 2006 sehingga harus dibangun ulang.

Di berbagai sudut rumah, digantung puluhan, bahkan ratusan, sangkar yang berisi berbagai macam burung. Koleksi termahal, cucak rowo, sengaja disimpan di dapur rumah. Kicau burung mulai jalak suren, cucak rowo, cucak hijau, lovebird, perkutut, hingga berbagai jenis burung lain bersahutan tanpa henti.

Agung menyatakan hanya tinggal dua bulan di Madiun. Setelah itu, dia bersama bapaknya berjualan burung di Bali, tepatnya di Gianyar. Di sana, Agung awalnya berjualan dengan pikulan sampai akhirnya bisa mangkal di salah satu sudut kota pada 2000. ”Saya diminta ngontrak di situ sampai kemudian punya beberapa kios,” ujar bapak satu anak itu.

Menurut Agung, untuk mendapatkan burung, dia harus kulakan di Pasar Pramuka Jakarta sampai pasar burung di Depok, Solo. Kebetulan, di dua pasar itu, juga di pasar burung di banyak kota di tanah air, mayoritas adalah orang Wukirsari.

Namun, saat itu mereka hanya menjual. Tidak berani untuk menangkarkan. ”Saya dapat ilmu penangkaran ya sambil berjualan, terutama dari teman di Malang sama di Solo,” kata Agung.

Ilmu penangkaran itu lantas dia mulai coba sendiri pada 2006 di Wukirsari. Sambil tetap rutin kembali ke Gianyar untuk menunggui kios miliknya.

Setelah dua tahun, usaha penangkaran tersebut menunjukkan hasil menggembirakan. Kebanyakan burung yang dijualnya adalah hasil jerih payahnya, bukan dari kulakan. ”Saya tahun 2008 pulang, fokus penangkaran saja. Kios diurus sama saudara,” ujarnya.

Dengan menangkarkan burung, setiap bulan Agung bisa mendistribusikan ribuan burung dengan berbagai jenis ke berbagai kota di Indonesia. Perputaran uangnya bisa lebih dari Rp 1 miliar untuk distribusi itu.

Karena merasa mendapat manfaat dari menangkarkan burung itulah, Agung mulai berinisiatif menularkan ilmunya kepada warga sekitar Wukirsari. Tujuannya, para tetangganya bisa mandiri dari burung. Tidak sekadar menjual, lalu pensiun di hari tua.

”Dulu itu 90 persen masyarakat sini ya jual burung. Kalau tua pensiun, uangnya habis, minta sama anaknya. Nggak ada yang bisa dikelola,” ujar pria 33 tahun itu.

Sigit Fitrianto termasuk yang merasakan manfaat mengikuti ajakan Agung untuk menangkarkan burung. Pria 25 tahun itu mengatakan mulai digaduh oleh Agung sekitar satu tahun lalu, setelah melepas masa lajang. Sebelumnya, seperti Agung dulu, Sigit lebih sering menjadi pedagang burung pikulan di sekitar Jakarta. ”Ya, sekali pikul bisa 24 sangkar. Banyak,” kata Sigit.

Karena sudah memiliki istri, Sigit tidak tega jika meninggalkan istri dan memilih kembali ke Wukirsari. Dia minta digaduhi Agung burung yang bisa berkicau. Oleh Agung, dia diberi lima pasang indukan lovebird.

Kini, dari lima indukan tersebut, Sigit sudah memiliki 25 indukan lovebird yang secara rutin sudah bertelur untuk menghasilkan anakan. ”Kalau sama anakan, bisa ratusan,” tutur Sigit.

Sigit mengatakan setiap bulan bisa mengirim 500 burung dari berbagai jenis ke Jakarta. Perputaran uang dari distribusi itu bisa mencapai Rp 200 juta. ”Ya kalau sepi, jelek-jeleknya Rp 5 juta (keuntungannya, Red). Kalau ramai bisa Rp 10 juta,” ujarnya.

Agung menjelaskan, menangkarkan burung tidak memerlukan banyak waktu. Cukup membersihkan kandang serta memberi makan dan minum di pagi hari, pemilik lantas bisa meninggalkan burung untuk melakukan aktivitas atau pekerjaan lain. ”Santai, tinggal nunggu pembeli, lalu burungnya dipaketkan,” ujarnya.

Kebanyakan warga Wukirsari memilih perkutut, jalak suren, dan lovebird untuk ditangkarkan. Cucak rowo meski berharga mahal kurang disukai. Sebab, burung itu sangat moody. Stres sedikit, burung tersebut membunuh anakan sendiri.

Kini, dari ribuan warga Wukirsari yang menangkarkan burung, sudah banyak yang memiliki perputaran uang lebih dari Rp 1 miliar. Rata-rata dari mereka adalah yang ikut digaduh sejak awal.

Bersama empat penangkar lain, Agung pun menggandeng para penangkar burung di desanya itu ke dalam Paguyuban Wukirsari Bird Farm Indonesia (WBFI). WBFI sudah memiliki payung hukum dari pemerintah.

Dengan tingkat kesadaran dan kemandirian warga yang sudah terbentuk, Agung melalui WBFI kini memikirkan konsep kemandirian yang baru. Dia menggagas pembuatan Taman Burung Wukirsari. Sebuah konsep cagar alam yang berisi burung-burung peliharaan. Sekaligus memberikan edukasi kepada pengunjung terkait dengan jenis burung beserta cara penangkarannya.

”Saya sudah kepikiran itu sejak lama. Sudah mencoba sendiri di tanah belakang rumah, tapi tak sanggup karena biaya terlalu besar.”

Karena itulah, Agung bersama WBFI mengajukan proposal pendirian taman wisata burung tersebut kepada Pemerintah Kabu­paten Bantul. Tapi, proposal itu baru direspons saat pergantian nakhoda kabupaten tersebut pada 2016.

Bupati Bantul yang baru, Suharsono, langsung memberikan lampu hijau. Dia memerintahkan untuk memproses perizinan ke pemerintah provinsi agar pembangunan taman itu bisa segera dimulai. ”Pak Bupati bilang, ‘Lha program bagus gini kok ditunda-tunda.’ Langsung disetujui,” ujarnya.

Taman Wisata Burung Wukirsari itu nanti didirikan di tanah kas desa seluas 1,8 hektare. Bukan hanya burung peliharaan, nanti burung-burung langka juga dikonservasi di situ atas kerja sama dengan balai konservasi sumber daya alam.

”Sudah ada dana CSR (corporate social responsibility, Red) dari sebuah bank. Malah sudah nagih-nagih. Kalau izinnya sudah selesai, minta segera dihubungi,” kata Agung.

Jika taman wisata burung itu jadi, Agung yakin akan semakin banyak lahan pekerjaan yang tercipta untuk warga Wukirsari. Mereka yang tidak menangkarkan burung bisa berjualan makanan dan minuman. Para istri juga bisa menjual kerajinan bambu yang selama ini sudah dikembangkan.

”Nantinya Pasar Wukirsari yang belum buka itu sebagian untuk pasar agen burung, sebagian untuk pasar sayur,” kata Agung, yang juga direktur BUMDes Wukirsari.

Agung juga sudah merekrut sedikitnya delapan preman kampung untuk dijadikan perangkat desa buat menjaga pasar tersebut. ”Ini semua cita-cita saya untuk mewujudkan kemandirian di desa saya,” katanya. (*/c11/ttg/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.