154

Potensi Jadi Pusat Farmasi Dunia

Pabrik Farmasi
Istimewa
BERPELUANG: Seorang pekerja tengah memeriksa obat-obatan yang diproduksinya.

JAKARTA – Masih timpangnya neraca perdagangan sektor farmasi, mendorong pemerintah untuk menyeimbangkan arus ekspor dan impor produk industri ini. Salah satunya dengan meningkatkan investasi dan ekspansi sejumlah perusahaan farmasi global yang beroperasi di Indonesia.

Pabrik Farmasi
IstimewaBERPELUANG: Seorang pekerja tengah memeriksa obat-obatan yang diproduksinya.

”Mereka perlu meningkatkan investasi dan melakukan ekspansi produksi. Untuk pabrikan farmasi multinasional, kami minta agar menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang berorientasi ekspor,” ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin saat meresmikan perluasan gudang pabrik PT Bayer Indonesia, di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, belum lama ini

Ia menilai ekspansi menjadi andalan” meningkatkan kinerja industri farmasi nasional, menambah devisa melalui ekspor produk farmasi dan dapat memperluas lapangan kerja. ”Perusahaan global yang beroperasi di sini harus bisa membuat Indonesia jadi basis produksi untuk ekspor,” katanya.

Dia juga mengincar target agar secara bertahap Indonesia mengurangi obat-obatan dan multivitamin impor yang beredar di dalam negeri. Saleh juga memaparkan, prospek bisnis farmasi di Tanah Air terbilang cemerlang. ”Pada kuartal I 2015, industri farmasi, kimia dan obat tradisional menjadi juara. Pertumbuhannya paling tinggi yaitu 9,1 persen,” ujarnya.

Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kinerjanya juga melesat dua kali lipat. Pasalnya, sepanjang tiga bulan pertama 2014, sektor itu hanya tumbuh 4,6 persen. Pada 2014, nilai ekspor produk farmasi mencapai USD 532 juta, tumbuh 16,98 persen dari 2013 yang sebesar USD 455 juta.

Sayangnya, produk farmasi di dalam negeri masih dikuasai oleh produk impor. Terlihat dari nilai impor tahun 2014 yang melaju lebih besar dari ekspor yaitu mencapai USD 959 Juta atau naik 6,68 persen dari 2013 yang sebesar USD 899 juta.

Saleh mengakui, di tengah kondisi ini maka langkah produsen farmasi yang agresif meningkatkan investasi patut diapresiasi. Apalagi, pabrik Bayer di Cimanggis ini memproduksi multivitamin dan obat-obatan yang 75 persen produksinya diekspor.

Presiden Direktur Bayer Indonesia Ashraf Al-Ouf mengakui pihaknya punya komitmen turut memacu industri farmasi. ”Kami melihat Indonesia sebagai pasar yang penting sekaligus lokasi fasilitas utama untuk mengekspor produk kami ke seluruh dunia,” ujarnya.

Pabrik di Cimanggis ini telah mengekspor ke 26 negara. Pihak Bayer juga menargetkan memperluas negara tujuan ekspor hingga menjadi 58 negara dalam 2-3 tahun ke depan.

Soal investasi, Bayer telah menggelontorkan EURO 60 juta dalam beberapa tahun terakhir dan akan bertambah EURO 8,1 Juta di tahun ini yang mampu menyerap tenaga kerja 1.300 karyawan. (wir/fik)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.