Perajin Tahu Ngeluh Bahan Baku Mahal

[tie_list type=”minus”]Terancam Gulung Tikar[/tie_list]

CANGKUANG – Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada produksi tahu-tempe yang notabene memakai bahan baku kedelai impor. Para perajin kesulitan untuk memproduksi dan menjual karena naiknya bahan baku.

Seperti yang dialami para produsen tahu di Desa Cangkuang Kecamatan Cangkuang. Mereka mulai resah akibat harga kedelai yang tak juga turun.

Lilis Aisyah, 36, salah satu perajin tahu yang biasa berjualan di pasar Banjaran mengatakan, dia mulai kebingungan untuk mengatur produksinya. ”Kalau ukuran dikecilkan takut diprotes pelanggan. Tapi kalau ukuran tetap dan harga yang dinaikkan, pelanggan juga pasti sedikit enggan,” tutur Lilis kemarin (17/9).

Dia mengatakan, membeli kedelai dengan harga yang cukup tinggi yaitu di atas Rp 10.000 per kilogramnya. Padahal sebelum dolar naik, harganya hanya berada di kisaran lima sampai enam ribu per kilogram. ”Sudah hampir sebulanan ini harganya terus naik. Awalnya belum terlalu berdampak, tapi lama-lama lumayan gerah juga,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, dia mengaku sudah memberitahukan pada pelanggan mengenai kesulitan yang saat ini dialami oleh perajin tahu. Sebagian, kata dia, bisa memaklumi hal tersebut. ”Ada yang ngerti tapi ada juga yang protes,” kata Lilis.

Ibu tiga anak itu mengaku, saat ini dia sudah mengurangi jumlah produksinya. Sebab, dengan harga kedelai yang tinggi, modal yang dimilikinya tidak cukup jika bertahan dengan jumlah produksi semula. ”Biasanya modal saya cukup buat dua sampai tiga kuintal. Ya sekarang cuma bisa beli setengahnya,” ujar dia.

Lilis berharap, keadaan ekonomi secepatnya stabil. Sebab, selama ini dia hanya mengandalkan usahanya di bidang itu. ”Kalau berkepanjangan, takutnya kita gulung tikar. Nanti bagaimana kita lanjutin hidup, soalnya enggak mudah nyari lahan usaha baru,” tuturnya. (mg15/rie)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan