Angeline Dimakamkan di Tulungrejo

36
Anak-hilang-Angeline-bandung ekspres
F-MIFTAHUDDIN/ RADAR BALI
DITEMUKAN DI HALAMAN: Mayat Angeline dalam kantong jenazah akan dibawa petugas ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Bali, kemarin (10/6).

[tie_list type=”minus”]Bocah Delapan Tahun yang Dibunuh di Bali [/tie_list]

BANYUWANGI – Meninggalnya Angeline dengan cara yang cukup tragis, membuat duka yang mendalam bagi keluarganya yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Rumah neneknya, Misya, 62, di RT 5, RW 3, Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, banyak didatangi warga untuk menyampaikan bela sungkawa kemarin (11/6).

Keluarga besar korban, juga berkumpul dengan membaur bersama warga. Mereka berharap, jenazah putri pasangan Rosidi dan Hamidah itu bisa dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. ’’Angelina (Angeline) belum pernah datang ke Tulungrejo,’’ cetus Imamah, 22, saudara sepupu Hamidah.

ads

Selama ini, Hamidah bekerja di Bali dan jarang pulang. Biasanya, kalau pulang itu hanya beberapa hari saat Idul Fitri. Bagi keluarga, ibu kandung Angelina itu tulang punggung keluarga. ’’Hamidah itu saudaranya ada sembilan, ekonomi keluarga banyak dari Hamidah,’’ jelasnya.

Angeline lahir saat kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk. Saat Hamidah hamil dan melahirkan Angeline, sedang bekerja di Bali. “Waktu Angelina lahir di rumah sakit, tidak ada biaya, lalu diambil oleh orang tua angkat itu,’’ ungkapnya.

Menurut Imamah, Hamidah itu memiliki empat anak dari dua suami. Sedang Angeline, itu anak kedua. ’’Anak pertama dibawa oleh suaminya di Banyuwangi, anak ketiga diasuh neneknya, dan keempat dibawa ke Bali,’’ urainya.

Imamah mengaku, tidak tahu pasti rumahnya Hamidah. Hanya saja, yang diketahui itu berada di daerah Nusa Dua. ’’Saya kerja di Bali, tapi rumahnya Hamidah di mana, saya tidak tahu,’’ terang Ghozali, kakak kandung Hamidah.

Sementara itu, nenek Angeline, Misyah, 68, terlihat hanya diam. Sesekali menjawab pertanyaan para wartawan yang datang. Nenek ini berharap jenazah cucunya bisa dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. ’’Dikubur di sini, saya minta pulang,’’ ucapnya.

Misyah mengaku, sangat sedih dengan kepergian cucunya itu. Apalagi, sampai saat ini belum pernah tahu secara langsung. ’’Saya tahu saat ada polisi datang, mereka menanyakan keberadaan Angelina,’’ ungkapnya.

Dengan logat bahasa Madura yang kental, Misyah berharap pelaku pembunuhan sadis itu mendapat hukuman seberat-beratnya. ’’Yang bunuh harus dihukum berat,’’ pintanya.

   Camat Glenmore, Susanto Wibowo mengatakan, bersama Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Disosnakertrans) Kabupaten Banyuwangi, telah melakukan upaya untuk memulangkan jenazah Angeline ke rumah duka di Desa Tulungrejo. ’’Kita sudah lakukan, pak Kepala (Disisnakertrans) sudah ke Bali untuk melobi agar jenazah bisa dibawa pulang,’’ katanya.

Sanksi bagi pelaku kejahatan seksual anak di Indonesia dinilai terlalu ringan. Hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara dan denda Rp 5 miliar, dalam Undang-undang perlindungan anak, dianggap tak setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Apalagi, punishment tersebut ternyata tidak menimbulkan efek jera dan efek takut bagi para predator seksual anak. Buktinya, hingga kini masih banyak anak-anak yang menjadi sasaran kebuasan nafsu mereka.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi mengatakan, pemerintah seharusnya berani mengambil langkah tegas untuk menghukum predator seksual anak. Misalnya, hukuman seumur hidup, kebiri hingga hukuman mati. Dengan demikian, pelaku atau calon pelaku akan berfikir seribu kali sebelum melakukan niat buruknya.

’’Jika pemerintah bisa menghukum mati pengedar narkoba yang dirasa membahayakan anak bangsa, kenapa tidak dengan predator seksual anak? Bukannya sama,’’ tegas pria yang akrab disapa Kak Seto itu pada Jawa Pos (Group Bandung Ekspres) kemarin (11/6).

Dia menuturkan, langkah itu akan sangat berarti bagi anak-anak Indonesia dalam menyambut hari anak pada 23 Juli nanti. Dalam momentum itu, dapat disisipkan gerakan nasional untuk menyelamatkan anak Indonesia dari kejahatan, baik seksual mauapun kekerasan lain.

Menurut pencipta karakter ’’Si Komo’’ itu, gerakan tersebut akan kembali membuka mata masyarakat tentang gawatnya kondisi anak-anak Indonesia. Sehingga, masyarakat akan kembali ’’awas’’ dan saling memperhatikan lingkungan sekitarnya. ’’Diharapkan, dilingkungan Rukun Tetangga misalnya, dapat saling menjaga. Kemudian dibentuk seksi khusus pengawasan anak,’’ tuturnya.

Sementara itu, untuk pihak orang tua, ada beberapa cara yang disarankan olehnya untuk langkah antisipasi. Pertama, sejak anak mulai bisa bicara harus dijelaskan tentang sex education. Pelajaran ini dapat diberikan mulai dari materi ringan. Seperti, menolak dibantu orang lain saat membasuh organ intim.

Pelajaran lain, dapat berupa pengenalan underwear rules. Seorang anak diajarkan bahwa mereka tidak boleh membiarkan seseorang menyentuh bagian tubuh mereka yang tertutup pakaian dalam. Begitu juga sebaliknya. ’’Penjelasan itu menegaskan bahwa tubuh adalah milik pribadi. Ada sentuhan baik dan buruk,’’ ungkapnya.

Namun, lanjut dia, dari seluruh pelajaran tersebut ada hal mendasar yang perlu dilakukan orang tua di rumah. Yakni komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua harus rajin bertanya pada anak tentang kegiatan atau perasaan mereka pada hari itu.

Untuk membiasakan komunikasi dengan anak, dapat dimulai dengan rajin mendongeng untuk mereka. Dengan begitu, anak juga akan mulai terbiasa berkomunikasi dengan orang tua mereka. Sehingga, bila terjadi hal-hal yang tidak lazim maka dapat segera terdeteksi. ’’Jangan jadikan rumah seperti hotel. Orang tua dan anak numpang tidur saja. Lalu melakukan kegiatan sendiri-sendiri di luar rumah,’’ urai bapak artis Dhea Seto ini.

Kisah tragis Angeline, mengundang iba pengurus Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi Dewata). Perkumpulan warga Banyuwangi di Bali itu berusaha membantu sekuat tenaga terkait kematian Angeline.

Sikap peduli itu ditunjukkan Ikawangi karena orang tua Angeline tercatat sebagai warga Banyuwangi. Pasutri tersebut adalah Hamidah dan Rosidi, warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore.

Pengurus Ikawangi juga menunggui langsung proses otopsi jenazah Angeline di Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah. Selama proses otopsi, ibu kandung Angeline, Hamidah, tampak histeris. ’’Kita berusaha memompa semangat Ibu Hamidah agar tetap tabah,’’ ujar Ketua Ikawangi Dewata Bambang Sutiono, didampingi Kholik, bagian Departemen Kominfo Ikawangi, kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi (Group Bandung Ekspres) kemarin.

Bukan hanya bantuan moral, Ikawangi juga menyiapkan mobil ambulans untuk mengangkut jenazah Angeline ke Glenmore. Setelah proses forensik Polda Bali tuntas, orang tua Angeline minta jenazah anaknya dimakamkan di Banyuwangi. ’’Kita sudah siapkan ambulans untuk mengangkut jenazah Angeline. Rencananya, jenazah memang akan dipulangkan ke Banyuwangi,’’ kata Bambang dihubungi via ponsel tadi malam.

Selain menyiapkan ambulans, kemarin siang rombongan pengurus Ikawangi juga menemui orang tua Angelina di RS Sanglah. Bambang dan kawan-kawan terus membesarkan hati Hamidah yang masih shock. ’’Kita juga memberikan bantuan uang ala kadarnya,’’ ujar Bambang.

Ketika membesuk Hamidah, tiba-tiba ponsel Bambang berdering. Ternyata yang menghubungi Bambang adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Saat itu juga Anas minta diizinkan berbincang dengan Hamidah. Merasa trenyuh, orang nomor satu di Pemkab Banyuwangi turut memberikan bantuan uang. ’’Pak Bupati juga memberikan tali asih lewat saya,’’ ucap Bambang yang asli Rogojampi itu.

Bentuk kepedulian Ikawangi tidak berhenti di situ. Jika nanti pelaku pembunuhan Angeline diajukan ke persidangan, anggota Ikawangi siap memberikan dukungan moral. Setiap persidangan digelar, mereka akan datang untuk memberikan support kepada keluarga Angelina. ’’Sidangnya akan kita kawal terus. Pelakunya harus dihukum berat. Itu perbuatan sadis karena tega menghabisi nyawa bocah yang tidak bersalah,’’ tegas Bambang.

Angeline yang tak berdosa jadi korban kekejaman orang tua angkatnya, Margareith CH Megawe, di Sanur Bali. Bocah 8 tahun yang dinyatakan hilang selama sekitar sebulan akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi. Sadisnya lagi, jasad Angeline ditemukan sudah dalam keadaan membusuk.

Angeline ditemukan dikubur di belakang rumah ibu angkatnya Rabu (10/6) di Sanur, Bali. Angeline sudah dikubur tiga minggu lalu. Hasil otopsi menunjukkan ia tewas karena trauma benda tumpul di kepala. Saat ditemukan, kondisinya sudah membusuk. Polresta Denpasar telah mengamankan enam orang dalam penemuan jenazah Angeline. Mereka antara lain ibu angkat Angeline, Margareith Megawe, dua saudara tiri Angeline, dua orang yang kontrak di rumah Angeline, dan satu satpam di Denpasar, Bali. (mia/bay/c1/aif)

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.