20

Tiga Laga Menuju Juara

Juventus vs Lazio
BEREBUT BOLA:
Arturo Vidal dibayangi oleh candreva saat Juventus melawan Lazio yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Juventus.

[tie_list type=”minus”]Juventus 2 v Lazio 0[/tie_list]

TURIN – Serie A Italia musim ini masih menyisakan tujuh giornata lagi. Namun, aroma scudetto sudah berhembus kencang ke kota paling barat di Italia, Turin. Juventus semakin dekat dengan scudetto ke-31-nya pada musim ini usai mengakhiri rekor sempurna Lazio, 2-0, Minggu dini hari kemarin (19/4)

Tambahan tiga angka pada giornata ke-31 ini semakin melesatkan posisi Si Nyonya Tua di tangga puncak klasemen sementara Serie A. Juve kini mengumpulkan 73 poin, sudah membuka ruang gap poin dengan Lazio sebanyak 15 angka. Itu sebelum dimulainya laga AS Roma menjamu Atalanta di Olimpico, Roma.

Di atas kertas, Roma diprediksi bisa kembali ke jalur tiga angkanya. Apabila itu terbukti, maka persaingan terdekat Juve adalah dengan Roma dan terbentang gap 13 poin antara dua tim ini. Dengan sisa tujuh giornata, masih jauh bagi Massimiliano Allegri berkoar scudetto pertamanya.

Allegri baru bisa berkoar apabila tetap mempertahankan selisih poin ini dalam beberapa laga ke depan. ’’Saya rasa untuk menjadi scudetto musim ini, kami harus mampu menang pada dua atau tiga pertandingan berikutnya. Sampai hitungan matematis meyakinkan kami juara, kami tetap memberi yang terbaik di tiap laga,’’ ujar Allegri, kepada Sky Sport Italia.

Memenangi tiga laga berikutnya bukan hal yang mudah bagi Gianluigi Buffon dkk. Dari tiga laga ini, Juve sudah ditunggu klub-klub underdog yang tengah berjuang berebut zona Eropa. Mulai dari derby Turin menantang tuan rumah Torino (26/4), menjamu Fiorentina (30/4) dan melawan Sampdoria (3/5).

Dua lawan terakhir bisa jadi ganjalan Allegri menyudahi musim ini lebih dini. Tapi, dari tiga angka ke-22 kemarin sudah memberi pelajaran bagi Juve. ’’Di satu sisi, kami mampu bermain dengan memainkan tempo. Di sisi lain, kami agak terburu-buru, dan saya pikir di laga berikut lawan Monaco (di leg kedua perempat final Liga Champions, Red) kami perlu peningkatan,’’ kilas mantan pelatih AC Milan tersebut.

Memang, melihat catatan statistic pertandingan kemarin, terlihat Juve sudah melupakan permainan indah dengan mendominasi ball possession. Opta mencatat, sepanjang 2 x 45 menit di Juventus Stadium, Juve hanya mampu menguasai bola 40,9 persen, catatan yang terendah sepanjang musim ini.

Pun demikian dari sisi tendangan ke gawang. Soccerway menyebut hanya lima kali shots dilancarkan pemain Juve, dengan hanya tiga di antaranya mengarah ke gawang Federico Marchetti. Bandingkan dengan Lazio yang bisa melakukan 14 shots, dan lima di antara shots itu tepat sasaran.

Allegri mengakui dirinya tidak begitu bahagia dengan kemenangan yang mengedepankan efisiensi serangan ini. ’’Jauh beda seperti saat kami mengalahkan Monaco di leg pertama (15/4) atau melenggang ke final Coppa Italia (mengalahkan Fiorentina 1-0, 8 April, Red). Kami akui, Lazio bermain hebat, fisik kuat, tapi kami menunjukkan kemenangan yang tidak biasa,’’ lanjutnya.

Di balik superiornya Il Biancoceleste dalam menguasai lini pertahanan Juve, satu-satunya kesalahan Stefano Mauri dkk adalah tidak mewaspadai serangan balik cepat Juve. Kedua gol kemenangan Juve yang disumbangkan Carlos Tevez dan Leonardo Bonucci berawal dari kesalahan lini pertahanan Lazio.

Gol pertama yang terjadi pada menit ke-17 misalnya. Barisan pertahanan Lazio lalai untuk menjaga pergerakan Tevez, sehingga Tevez bisa memanfaatkan heading Arturo Vidal dan langsung berhadapan one on one dengan Marchetti. Kesalahan yang sama pun dibuat sebelum terjadinya gol Bonucci.

Bek tengah berusia 27 tahun ini bahkan mengawali golnya dengan men-dribble bola dari tengah lapangan. Tidak satu pun dari Edson Braafheid, Dusan Basta, Lorik Cana ataupun Mauricio yang bisa menghentikan aksi solo run Bonucci. Sehingga, Bonucci bisa dengan mudah berhadapan dengan Marchetti dan menjebol gawang Lazio di menit ke-28.

Kesalahan itu pun dibayar dengan berakhirnya rekor 10 pertandingan tanpa kekalahannya sejak 15 Februari lalu. ’’Mereka bisa membuat gol dalam dua kali peluang emas di laga ini, dan itu membuat kami kesulitan untuk comeback. Kesalahan ini harus dibayar mahal, semua karena komunikasi kami. Sekarang, dengan sisa laga yang ada, kami harus dapat memenanginya,’’ ungkap Cana, dikutip dari Forza Italian Football.

Pelatih Stefano Pioli menambahkan, pemain Juve cukup cerdik untuk memanfaatkan sisi error Lazio. Akan tetapi, Pioli menganggap kelengahan lini pertahanan itu tidak akan terjadi apabila kedua pemain utamanya seperti Stefan de Vrij dan Stefan Radu absen dari laga itu.

’’Padahal, dari sisi permainan, kami bisa banyak membuka serangan antar ruang. Kami bisa membuat beberapa peluang membahayakan di depan gawnag Juve, dan bisa membuka one on one dengan Buffon. Tapi, kembali lagi, kami tidak bisa memaksimalkan peluang, tidak seperti laga biasanya. Ini hanya factor luck,’’ klaimnya. (ren/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.