Petakan Daerah Rawan

4
PERBAIKAN: Mobil patroli polisi terparkir di antara jalan Pantura yang sedang dilakukan betonasi jelang puasa dan lebaran,beberapa waktu lalu. Pengendara mengeluh,perbaikan Pantura kerap mendesak.

Banjir dan Macet juga ancaman

JAKARTA – Persiapan arus mudik lebaran terus dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Selain mempercepat pembangunan jalur Pantura, Kemen PU juga memetakan daerah yang menimbulkan permasalahan. Seperti daerah rawan kemacetan dan rawan bencana.

PERBAIKAN: Mobil patroli polisi terparkir di antara jalan Pantura yang sedang dilakukan betonasi jelang puasa dan lebaran,beberapa waktu lalu. Pengendara mengeluh,perbaikan Pantura kerap mendesak.
PERBAIKAN: Mobil patroli polisi terparkir di antara jalan Pantura yang
sedang dilakukan betonasi jelang puasa dan lebaran,beberapa waktu lalu. Pengendara mengeluh,perbaikan Pantura kerap mendesak.

Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kementerian (PU), Joko Mursito menjelaskan dalam pendataan kali ini pihaknya merinci lagi daerah yang dikatakan rawan tersebut. Misalnya wilayah yang rawan macet. Ada tiga kategori yang membuat jalan macet. Yakni disebabkan adanya pasar tumpah, persimpangan, dan jalan yang sempit.

Untuk pasar tumpah data yang didapatkan oleh tim jumlahnya berkisar 25 pasar. Keberadaanya mayoritas tersebar di Jawa Barat. Seperti Pasar Johar di Karawang, Pasar Cikampek, Pasar Sukamandi di Ciasem. Pasar-pasar tersebut akan membuat pemudik tidak nyaman. “Jalan akan menyempit. Pasti akan terjadi kemacetan,” paparnya.

Selain pasar, kemacetan juga disebabkan adanya persimpangan jalan. Ada beberapa persimpangan yang harus diwaspadai pemudik. Yakni di persimpangan Jomin di Cikampek, pertigaan Babadan di Cirebon, pertigaan Pejagaan di Brebes, serta persimpangan desa Jangga di Indramayu. “Pintu masuk dan keluar tol pun bisa memicu kemacetan,” jelasnya.

Sedangkan jalan sempit di Pantura di antaranya jalur Cikampek, Cikampek, Pamanukan, Indramayu dan Losari. Di lajur pantai selatan juga banyak dijumpai jalan-jalan sempit. Contohnya di Ciawi, Bogor, dan Nagrek.

Joko menjelaskan, yang juga patut diwaspadai pengendara adalah daerah yang rawan bencana alam. Seperti banjir dan tanah longsor. Mayoritas berada di wilayah selatan pulau jawa. Sebab, kondisi alamnya di dominasi perbukitan. Contohnya di daerah Manonjaya Tasikmalaya, Kulonprogo dan Gunungkidul. Sedangkan banjir di wilayah Brebes, Pemalang dan Pekalongan. “Cuaca yang tidak menentu bisa saja memicu banjir dan longsor,” katanya.

Joko mengatakan, untuk mengatasi permasalahn itu, pihaknya menyiapkan solusi dengan menggandeng kepolisian dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Bagi daerah yang rawan bencana alam, akan dipasang rambu-rambu peringatan di jalan. Ketika terjadi hujan atau longsor, maka kendaraan yang melintas di jalur itu akan dialihkan menuju jalan lain.

Sedangkan untuk pasar tumpah, Kemen PU akan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. “Nantinya becak dan kendaraan tidak bolehparkir di pinggir pasar. Itu menyebabkan kemacetan,” ungkapnya.

Bagi pemudik yang tidak ingin terjebak kemacetan, bisa menggunakan jalur alternatif yakni di jalur tengah. Misalnya lewat Bandung dan Sumedang. Joko menjelaskan, jalur tengah relatif lancar daripada jalur selatan dan Pantura. Namun jarak tempuhnya lebih jauh.

Lebih lanjut, terkait dengan perbaikan jalur pantura, Kementerian PU berjanji H-30 jalur tersebut sudah bisa digunakan. Joko mengatakan, kini pembangunan pembangunan pantura dikebut. Kementerian PU mengklaim progress perbaikan sudah mencapai 80 persen. Menurut Joko, pembangunan yang masih tersendat berada di daerah Tegal Slawi Jawa Tengah. Selain itu di jalur Pamanukan-Sawo-Lohbener. Kini prosesnya masih pembetonan dan peningkatan struktur jalan.

Lalu bagaimana jika pada saat hari H jalur tersebut belum selesai dikerjakan? Joko mengatakan Kemen PU mengusahakan jalur tersebut bisa dilewati pemudik. Caranya dengan ditutup atasnya dengan menggunakan pasir. “Agar tidak ada gangguan saat mudik lebaran,” paparnya.

Sementara itu, Mabes Polri mengingatkan masyarakat terhadap potensi kerawanan keamanan sebelum, saat, dan pasca masa mudik. Kerawanan terbanyak ada pada saat bulan Ramadan. Mulai terorisme, perkelahian antar warga, sweeping oleh ormas, petasan, pembagian zakat, hingga peredaran mamin kadaluarsa. Tentu saja, berbagai jenis kejahatan juga masuk daftar pengawasan.

Berdasarkan catatan Polri, pada 2013 jumlah kejaharan selama operasi ketupat menurun drastic ketimbang tahun sebelumnya. Penurunannya mencapai 55 persen. Pada 2012, Polri mendapat laporan 3.293 kasus kejahatan. Baik konvensional, transnasional, kejahatan kekayaan negara, hingga kontijensi. Namun, pada 2013 laporan tersebut menurun menjadi 1.478 kasus.

Kepala Pelaksana Rakor Operasi Ketupat Brigjen Carlo Brix Tewu menjelaskan, Polri sudah menyiapkan berbagai langkah pencegahan tindak kejahatan selama masa mudik dan balik. Peningkatan jumlah personel dibandingkan hari biasa diharapkan bisa membuat para penjahat berpikir dua kali untuk beraksi.

Meski begitu, pihaknya tetap meminta pastisipasi masyarakat untuk menjaga keamanan diri sendiri. Salah satunya, mengamankan rumah saat ditinggal mudik. Sebab, jumlah personel yang diterjunkan tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. “Jumlah personel yang diterjunkan tahun ini memang sedikit berkurang dibanding operasi ketupat tahun lalu, namun kami optimis mereka bisa bekerja lebih efektif,” ujarnya. (aph/byu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here