Mengunjungi Base Camp Timnas Belanda di Rio de Janeiro

ASAH TEKNIK: Skuad Belanda menjalani latihan Estadio Jose Bastos Padilha, Brasil, beberapa waktu lalu.

Istirahat di Tepi Pantai Ipanema

Ada empat tim yang bermarkas di Rio de Janeiro. Tetapi, hanya Belanda dan Inggris yang memilih base camp-nya di pusat kota. Belanda memilih Caesar Park sebagai penginapan dan Estadio Jose Bastos Padilha sebagai lapangan latihan.

Laporan Wartawan Jawa Pos dari Rio de Janeiro


ASAH TEKNIK:  Skuad Belanda  menjalani latihan Estadio Jose Bastos  Padilha, Brasil, beberapa  waktu lalu.
ASAH TEKNIK:
Skuad Belanda
menjalani latihan Estadio Jose Bastos Padilha, Brasil, beberapa waktu lalu.

SEJAK pagi Jordy van Vlerken menunggu di depan Caesar Park, hotel tempat menginap timnas Belanda pada Piala Dunia 2014. Hujan yang mengguyur Kota Rio de Janeiro dan sekitarnya tidak menyurutkan niat Jordy.

Dengan mengenakan jaket Ajax Amsterdam, dia bersama dua temannya berdiri di depan hotel yang menghadap Pantai Ipanema tersebut. Sambil membawa spidol dan buku stiker Panini, Jordy sabar menanti para pemain Belanda yang tidak kunjung keluar.

Beberapa fans datang dan pergi karena melihat keramaian. Tetapi, Jordy dan tiga temannya tetap teguh berdiri di depan pintu. Kebetulan, penjagaan di hotel bintang lima itu tidak begitu ketat. Jarak pagar besinya hanya lima meter dari pintu utama ke dalam hotel.

Beberapa kali ofisial Belanda keluar-masuk hotel. Jordy sempat bertanya, tetapi mereka diam seribu bahasa. “Apakah ada latihan hari ini (kemarin waktu setempat)? Apa para pemain akan keluar?” ucap Jordy yang tinggal di Rio de Janeiro sejak lima tahun lalu karena mengikuti orang tuanya yang bekerja di sana.

Dia adalah penggila Ajax sejak masih kecil. Sebab, mereka tinggal di Amsterdam saat dia kecil sebelum hijrah ke Rio de Janeiro. Sejak mendengar Oranje, julukan Belanda, memilih Caesar Park sebagai lokasi penginapan, Jordy sangat senang. Sebab, dia tidak perlu ke luar kota atau kota lain untuk melihat langsung idolanya.

Jordy juga sudah memegang tiket pertandingan terakhir Belanda melawan Cile pada 23 Juni di Arena Corinthians, Sao Paulo. Remaja berusia 16 tahun tersebut akan pergi bersama keluarga.

Sebelumnya, Belanda bermain di Salvador dan Porto Alegre melawan Spanyol dan Australia. Tetapi, mereka gagal mendapat tiketnya. “Namun, keluarga kami punya tiket final dan akan bermain di Maracana. Saya berharap Belanda berada di sana,” katanya.

Ketika Belanda melakukan open training pada awal kedatangannya di Rio de Janeiro, Jordy dan teman-temannya menonton mereka di Estadio Jose Bastos Padilha atau juga biasa disebut Estadio da Gavea. “Dua kali mereka melakukan open training dan saya selalu hadir,” ungkapnya.

Sejak Belanda menginap di Caesar Park, sudah lima kali Jordy menunggu di depan pintu. Hasilnya, dia memperoleh tanda tangan bek Ron Vlaar, Giorginio Wijnaldum, dan Memphis Depay. Tetapi, target utamanya, yakni Arjen Robben, belum juga didapat.

Tampaknya, Jordy dkk kurang jeli. Memang, kalau akan berangkat latihan atau pulang, para pemain dan ofisial melalui pintu depan. Tetapi, saat bakal bepergian ke sekitar hotel, mereka melintasi pintu samping yang dekat dengan dapur hotel.

“Saya pernah bertemu Jonathan de Guzman dan dua temannya keluar lewat situ dan naik taksi entah ke mana. Sayangnya, saya gagal menemui mereka,” kata Leticia Rozeira da Silva, cewek Brasil yang menyukai striker Belanda Robin van Persie.

Terkait dengan dukungan, dia tetap mendukung timnas negaranya, Brasil. Tetapi, dia juga menyukai pemain-pemain Belanda karena terpengaruh kakaknya yang tinggal di Rotterdam untuk bekerja. Sejak mengetahui soal pintu samping, dia sering kali berdiri di sudut antara pintu depan dan samping untuk bisa memantau dua-duanya.

Mengetahui informasi itu, Jawa Pos berusaha menunggu di pintu samping. Namun, tidak ada pemain yang lewat. Hanya beberapa ofisial yang keluar ke pertokoan di Ipanema. Lagi pula, seharian penuh hujan terus mengguyur Rio de Janeiro.

Setelah tiga jam menunggu di depan hotel dan tidak ada tanda-tanda para pemain akan keluar, Jawa Pos memutuskan untuk pergi ke lokasi latihan Belanda di Estadio da Gavea. Jaraknya hanya mencapai sekitar 5 kilometer dari hotel.

Stadion milik klub Brasil Flamengo tersebut adalah stadion klasik yang dibangun sejak 1925. Kapasitasnya kecil, hanya 8 ribu penonton. Terlebih, Flamengo memang biasanya memakai Maracana saat menjalani pertandingan.

Saat akan diajukan sebagai lokasi latihan kontestan Piala Dunia 2014, mereka melakukan banyak perbaikan. Terutama pada rumput lapangan yang menggunakan Bermuda Tifway, sesuai dengan standar beberapa stadion Piala Dunia 2014.

Bila melihat stadion itu dari luar, bentuknya tampak kurang meyakinkan. Kelasnya tidak berbeda jauh dengan stadion lawas seperti Gelora 10 Nopember, Surabaya. Padahal, ukurannya jauh lebih besar daripada Gelora 10 Nopember.

Tetapi, di dalamnya terdapat fasilitas yang jauh lebih oke. Stadion tersebut memang lebih banyak dipakai Flamengo untuk latihan. Sebab, lokasi latihan mereka yang baru di Estrada dos Bandeirantes, bernama CT George Hall, belum bisa dipakai.

Di dalam stadion itu, tidak hanya terdapat Museum Flamengo, tetapi juga kolam renang, gym, dan pusat recovery cedera pemain. Saat Jawa Pos pergi ke sana, kebetulan bus yang biasa mengangkut pemain berada di sana.

“Maaf, tidak ada latihan hari ini (kemarin, Red). Bus memang selalu terparkir di situ selama tidak digunakan karena tidak bisa diparkir di hotel,” ujar Andre Joao Coimbra, petugas di Estadio da Gavea.

Meski tidak ada latihan, banyak pengunjung yang mendatangi Estadio da Gavea. Sebab, museum klub juara lima kali Campeonato Brasileiro Serie A tersebut terletak di Estadio da Gavea. Begitu juga toko merchandise resmi klub.

Berbeda dengan di Caesar Park, jumlah petugas keamanan di Estadio da Gavea ternyata lebih banyak. Di hampir setiap sudut, selalu ada petugas keamanan. Tetapi, mereka tidak agresif dan membiarkan saja orang keluar-masuk area luar stadion. Hanya memantau. (*/c14/tom)

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR